SURAT CINTA UNTUK BAPAK DI RUANG KERJA

source : http://www.1freewallpapers.com/letter-love

Jagat maya mungkin sedang ramai dengan film “Surat Cinta untuk Starla”, ya, sebuah film garapan sutradara Rudi Aryanto yang diangkat dari lagu dengan judul yang sama karya Virgoun ‘Last Child’. Sedikit terinspirasi dari judulnya, tiba-tiba penulis tergerak untuk menulis sebuah surat, ya, katakanlah sebuah “Surat Cinta untuk Bapak di Ruang Kerja”.

Jika dalam surat ini nanti penulis menyebut kata ‘kamu’ atau ‘engkau’, maksudnya bukanlah ‘engkau yang menjabat di gedung berbentuk kompor’, melainkan merujuk pada ‘engkau yang selalu menutup telinga terhadap kami’. Dan jika dalam surat ini nanti penulis menyebut kata ‘aku’ atau ‘kami’, maksudnya bukanlah ‘aku atau kami, mahasiswa’, melainkan merujuk pada ‘kami, manusia yang ingin dimanusiakan’. Karena pada dasarnya penulis disini bukan membandingkan dua aktor atau dua pihak, melainkan dua sikap yang berbeda, dimana penulis sadar bahwa engkau pun pernah berada dalam posisi yang sama dengan kami sebelumnya.

***

Untuk membuka surat ini izinkan aku mengingatkan kembali bahwa sekitar dua tahun silam, engkau pernah menitip tiga pesan kepada para pemimpin organisasi kemahasiswaan yang baru saja engkau kukuhkan pada saat itu. Pertama, pimpinan ormawa mampu memfasilitasi mahasiswa untuk dapat berorganisasi dengan baik. Kedua, pimpinan ormawa mampu memberikan dorongan kepada mahasiswa lainnya untuk aktif berogranisasi. Dan ketiga, pimpinan ormawa harus kreatif dalam mengimplementasikan program kerja yang direncanakan, dan implementasi ini juga diharapkan ada sinergi dengan mahasiswa atau pemangku kepentingan lainnya. Lebih lanjut bahkan engkau berkata bahwa “Semakin banyak mahasiswa yang bisa bergerak berorganisasi itu makin baik,” dan “Jangan ada kata tidak bisa. Usul itu ide yang luar biasa, tinggal bagaimana ide luar biasa tersebut diwujudkan,” baca selengkapnya.

Tiga buah pesan yang lahir dari ucapan seseorang yang jelas pernah menjadi bagian dari kami dan bahkan aktif dalam kegiatan di dalamnya. Tiga buah pesan yang intinya berisi harapan dan wejangan akan pentingnya kegiatan kemahasiswaan dan partisipasi aktif mahasiswa di dalamnya. Dan tiga buah pesan yang menggambarkan bagaimana pentingnya organisasi sebagai tempat berkembangnya karakter dan kepemimpinan seorang mahasiswa.

Namun melihat kondisi sekarang, aku tidak paham, apa aku yang kurang dapat memahami perkembangan zaman atau engkau yang terlalu pintar dalam berinovasi dan penuh kejutan?

Entah siapa yang benar, aku yang berkeluh kesah dan merasakan di lapangan atau kamu dengan segudang gelar yang melegitimasi pembenaran-pembenaranmu di ruang kerja yang sejuk itu?

Kebijakan-kebijakanmu yang menurutku ‘kurang bijak’ itu bermunculan tak henti-hentinya di sepanjang tahun kemarin. Dan mungkin ada benarnya pandangan salah satu temanku, bahwa sebenarnya isu-isu ‘receh’ tentang kebijakanmu yang serba mendadak itu memang sengaja dibuat agar kami lupa bahwa masalah sesungguhnya adalah pergeseran substansi dari pendidikan tinggi itu sendiri. Jam kuliah dan istirahat diseragamkan, dibentuknya kantin terpusat, sistem KKNM baru, kegiatan kemahasiswaan yang dibatasi waktu kegiatannya, anggaran kemahasiswaan yang dibatasi peruntukkan dan arah programnya, dan yang terbaru adalah rencana akreditasi lembaga kemahasiswaan dimana kesemuanya muncul tanpa adanya sosialisasi yang jelas terlebih dahulu.

Dan mirisnya, kami selalu tidak engkau libatkan dalam proses pembuatan kebijakan tersebut, apakah kami setuju, apakah kami menolak, apakah kami punya opsi dan jalan keluar lain? Engkau tak pernah peduli. Yang ada hanyalah ide-ide dan inovasimu sendiri yang berkutat dengan permasalahan yang melibatkan kita semua. Aku berkata begini bukan berarti aku selalu bersikap resisten terhadap segala macam perubahan yang terjadi atau yang kamu janjikan, tapi sikapmu yang lebih memilih menutup mata dan telinga lalu memutuskan segala sesuatu yang melibatkan kami semua secara sepihak lah yang membuat kami merasa tidak ‘dimanusiakan’.

Ya, sebuah wacana besar yang belum juga terselesaikan dari tahun ke tahun, entah nafas perjuangan kami yang terlalu pendek atau memang engkau yang selalu berhasil mereduksi semangat kami untuk menuntut hak-hak yang memang seharusnya telah menjadi milik kami sejak awal. Karena aku rasa, inilah yang memisahkan kita selama ini, engkau yang merasa cukup untuk mengabdi pada otoritas di atasmu, sedang kami ingin memperoleh kebenaran darinya. Tapi yang jelas, aku yang memilih untuk melalui ‘jalan memutar’ dan berusaha mencari kebenaran, tidak akan berjalan sendiri. Karena sejatinya, ketika aku menyebut ‘kami’, yang aku maksud bukanlah tentang pemimpin-pemimpin kami saja, karena seorang pemimpin saja tidak akan ada artinya tanpa suatu wacana besar yang hendak dicapai bersama secara kontinyu.

***

Untuk menutup surat ini, aku ingin sedikit mengutip tulisan Albert Camus dalam Krisis Kebebasan, yaitu :

“Sampai disini, terbayang olehku engkau tersenyum, senyum seperti dahulu. Engkau selalu tidak percaya pada kata-kata. Demikian pula aku, dan aku lebih sering tidak mempercayai diriku sendiri. Biasanya engkau mengambil jalan yang pernah kau tempuh, jalan yang membuat cendekiawan merasa malu karena akal budi. Saat ini pun aku tidak dapat mengikutimu. Tetapi sekarang jawabanku akan lebih pasti. Apa itu kebenaran? Demikian kau selalu bertanya. Kebenaran adalah apa yang engkau ajarkan kepada kami, dan paling tidak kami mengetahui apa itu kepalsuan. Apa itu semangat? Kami tahu kebalikannya, pembunuhan. Apa itu manusia? Disini ku hentikan pertanyaanmu, karena kita sudah tahu. Manusia adalah kekuatan yang pada akhirnya akan meniadakan segala macam tiran dan dewa-dewa. Dialah kekuatan yang terbukti dengan sendirinya. Bukti manusiawi merupakan sesuatu yang harus dilestarikan, dan kepastian yang kami miliki saat ini berasal dari kenyataan bahwa nasib manusia dan nasib negeri kami berhubungan satu sama lain. Kalau segala sesuatu di dunia ini memang tanpa arti, engkaulah yang benar. Tetapi masih ada di dunia ini yang mempunyai arti” – Albert Camus.

 

Ya, di luar itu semua… sudahlah, anggap saja ini cuma celotehan seorang mahasiswa enggak jelas di akhir tahun.

Selamat menikmati akhir tahun!

 

Dari aku,

Mahasiswa nanggung semester 5

Yang (masih) berkutat dengan KKNM  ala OKK.

 

Oleh : Muhamad Fachrial Kautsar

 

Referensi

Camus, Albert (1988). Krisis Kebebasan, Terj. Edhi Martono. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *