LIBERAL DALAM FEMINISME

source : http://cittairlanie.com/wp-content/uploads/2017/04/slide-1-feminisme.png

Pembelaan terhadap kaum perempuan kerap dilakukan demi terciptanya kesetaraan gender yang menjadi cita-cita banyak orang, terutama para kaum feminis di seluruh dunia. Pergerakan perempuan yang paling kita kenal sebagai warga Indonesia adalah pergerakan yang dilakukan oleh Ibu Kartini. Perempuan yang lahir pada tanggal 21 April 1879 bergerak pada bidang pengajaran dan sosial yang membebaskan perempuan dari stigma perbudakan pada masa itu, seperti perempuan yang harus bekerja di dapur, harus melayani urusan rumah tangga saja, bahkan praktik kawin paksa yang lazim terjadi pada masa itu. Pemberontakan sejenis tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan negara luar seperti yang dilakukan oleh penulis buku The Feminime Mystique, Betty Friedan dari Amerika Serikat yang memperjuangkan hak penuh dalam segala bidang bagi perempuan. Sebagai bentuk apresiasi para pejuang feminisme, dunia telah merayakan Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Acara tak hanya melibatkan aktivis berjenis kelamin perempuan saja, namun para bapak dan kakek pun ikut merayakan dan meramaikan hari raya berskala internasional ini.

Bila bicara mengenai hak dan pembelaan terhadap kaum perempuan, tentu akan terpikir pertanyaan dasar mengenai batas hak yang harus diperjuangkan oleh perempuan—karena masih banyak praktik patriarki dalam keseharian kita. Gerakan emansipasi kaum perempuan, atau yang lebih akrab kita sebut feminisme itu sendiri dikaji dari berbagai perspektif seperti liberal, radikal, bahkan perspektif marxist-sosialis. Beda perspektif, maka akan beda pendapat pula mengenai dasar hak tersebut, apakah hanya sekedar hak dalam bidang pekerjaan saja, atau ekonomi, bahkan dalam segala bidang. Bicara mengenai kesetaraan gender, hal menarik ini bukan mengenai perempuan versus laki-laki atau sungguh menghilangkan sistem patriarki, namun hal ini berbicara mengenai penghargaan dan kesempatan yang sama pada perempuan dan laki-laki dalam menentukan keinginannya dan menggunakan segala kemampuannya secara maksimal dalam berbagai bidang (Dikutip dari www.medium.com/literation-not-bombs/kesetaraan-gender-adalah-tanggung-jawab-kita-bersama Juwita, Sheila Rahmi) Beruntungnya lagi, ada suatu organisasi feminisme yang isinya adalah kaum laki-laki. Organisasi yang bernama Aliansi Laki-laki Baru ini terlahir di Indonesia dan dilatarbelakangi oleh kasus KDRT dan TKW yang seringkali melahirkan para korban perempuan baru dan sebagai laki-laki yang otomatis mendapat paradigma buruk dari hal tersebut, maka ALB muncul untuk mempromosikan dan memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan gender yang ada. Bukan hanya untuk laki-laki karena sesuai dengan jenis kelamin anggotanya atau hanya bicara mengenai perempuan dan perempuan. Mereka bergerak dalam hal kesetaraan gender yang bercita-cita menghilangkan rantai kekerasan dan ketidakadilan, khususnya pada isu gender (“Kami Ingin Pria jadi Solusi Menghapus Relasi Patriarki” Dhani, Arman. www.tirto.id/kami-ingin-pria-jadi-solusi-menghapus-relasi-patriarki-ckkp)

Yang menarik dari hal ini berarti bahwa hak tersebut tidak hanya milik dan harus diperjuangkan oleh para perempuan saja. Hak feminisme bersifat umum, bahkan berharap kaum pria bisa menjadi solusi atas ketidakadilan gender yang terus terjadi. Disisi lain, dibatasi begitu saja, atau dengan kata lain, feminisme yang dikaji dengan perspektif liberalisme. Liberalisme sendiri berbicara mengenai paham kebebasan, bila dikaitkan dengan feminisme, maka feminisme liberal memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan dalam hal apapun, khususnya untuk mengembangkan minat dan bakat mereka.

Kasus yang paling sering terjadi pada kaum perempuan adalah perbudakan bahkan penjualan. Tak asing lagi kita mengenal istilah TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan hal tersebut terjadi karena konstruksi sosial yang terjadi terus menerus—wanita hanya layak bekerja di dapur dan mengurusi urusan rumah tangga. Jenis kelamin yang hakikatnya adalah suatu identitas yang telah diberikan Yang Maha Kuasa sejak lahir, berbeda hakikatnya dengan gender. Seringkali masyarakat melakukan seksisme atas nama gender, padahal masyarakat hanya mengulangi suatu konstruksi sosial yang sama.

“Ibu memasak di dapur bersama Tina,

Ayah mencangkul di ladang bersama Tono”

Mengapa tidak Tono memasak bersama Ibu di dapur dan Tina mencangkul di ladang bersama Ayah? Sebuah konstruksi sosial yang telah tertanam sejak dulu hingga menjadi kebiasaan dan berakhir dengan seksisme, khususnya bagi para perempuan.

“Cewek ‘kan nggak bisa bawa bawaan berat, suruh cowok aja, lah!”

Kalimat sederhana, namun memiliki arti diskriminasi yang mendalam pada masalah gender. Berargumen mengenai kekuatan kaum adam lebih besar daripada kaum hawa, siapa bilang? Sebuah penelitian yang menghasilkan beberapa fakta mengenai kuatnya perempuan, salah satunya adalah perempuan bisa hidup 6-7 tahun lebih lama daripada laki-laki dan IQ perempuan cenderung lebih besar (Dikutip dari www.idntimes.com/fun-fact/amp/terbukti-berdasarkan-penelitian-perempuan-itu-lebih-kuat-daripada-laki-laki)

Berkaitan dengan TKW yang sempat disinggung di awal, perempuan yang dikonstruksikan sebagai makhluk untuk melakukan pekerjaan rumah, berbagai pihak ‘cerdik’ mendapatkan celah untuk memulai perbudakan perempuan—dalam hal ini, diutamakan perempuan berpendidikan rendah. Hal tersebut tentu mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan dan ketidakadilan. Bertolak belakang sekali dengan feminisme liberal yang seharusnya perempuan diberi kebebasan untuk memilih dan melakukan apapun yang menjadi kesenangan mereka tanpa batas sehingga kaum perempuan dapat mengembangkan bakatnya secara maksimal.

Bukan saja dari pandangan liberal, hal TKW ini pun mendapat penolakan dari berbagai pihak dan peran hingga sempat terjadi aksi dan keributan yang mendukung kontra dari perihal tersebut. Agak sedikit beruntung bagi para kaum feminisme liberal karena hal penindasan ini membuat angka pejuang kebebasan perempuan meningkat. Setiap manusia memiliki kapasitas berpikir rasional dan kebanyakan hal tersebut dipicu dengan keadaan tertekannya yang menghasilkan kader-kader perempuan yang siap untuk bersaing dengan lawan jenisnya dalam berbagai bidang. Terjadinya aksi dan keributan yang terjadi merupakan langkah para perempuan untuk mempersiapkan kehidupannya yang lebih baik tanpa penindasan pada mereka.

Setiap manusia memiliki kapasitas berpikir rasional dan kebanyakan hal tersebut dipicu dengan keadaan tertekannya yang menghasilkan kader-kader perempuan yang siap untuk bersaing dengan lawan jenisnya dalam berbagai bidang. Terjadinya aksi dan keributan yang terjadi merupakan langkah para perempuan untuk mempersiapkan kehidupannya yang lebih baik tanpa penindasan pada mereka.

Sayangnya, tidak hanya sampai disitu perjuangan dan pembelaan terhadap kaum yang sering disebut sebagai pelengkap. Harus terus berjuang untuk terus mengembangkan bakat dan minat dari masing-masing individu.

Panjang umur alam semesta.

Oleh : Elizabeth Starla Lenina

Editor : Muhamad Fachrial Kautsar

 

Referensi

Terbukti! Berdasarkan Penelitian, Perempuan itu Lebih Kuat Daripada Laki-laki. Sjarief, Melarissa (www.idntimes.com/fun-fact/amp/terbukti-berdasarkan-penelitian-perempuan-itu-lebih-kuat-daripada-laki-laki)

Kesetaraan Gender adalah Tanggung Jawab Kita Bersama. Juwita, Sheila Rahmi. (www.medium.com/literation-not-bombs/kesetaraan-gender-adalah-tanggung-jawab-kita-bersama)

CATATAN GENDER: Feminisme dan Kekuasaan Perempuan. Prasetyawati, Ika. (www.suroboyo.id/catatan-gender-feminisme-dan-kekuasaan-perempuan)

Komunikasi Gender (Aliran-Aliran Feminisme). Simon, Riyadi. (www.academia.edu/8551505/komunikasi_gender_aliran-aliran_feminisme)

Feminisme. Wikipedia. (www.wikipedia.com/wiki/Feminisme)

“Kami Ingin Pria jadi Solusi Menghapus Relasi Patriarki” Dhani, Arman. www.tirto.id/kami-ingin-pria-jadi-solusi-menghapus-relasi-patriarki-ckkp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *