KEBEBASAN UNTUK SARIMIN

Eksploitasi Topeng Monyet, source : http://4.bp.blogspot.com/-sUfZ-L6gTdg/UCkZ1wbsS5I/AAAAAAAAUQk/R8wil7u8T2I/s1600/image002.jpg

Kemerataan pada umumnya lebih familiar dan bersahabat dengan ideologi spektrum kiri yang merupakan bagian dari sosialisme. Sedangkan kebebasan lebih akrab dengan ideologi spektrum kanan.  Perdebatan soal idealisme dan ideologi kiranya takkan berhenti selama masih ada yang berpikir. Inspirasi datang dari mana saja katanya, ya inspirasi saya kali ini berasal dari baliho di pinggir jalan perempatan lampu merah.

Inspirasi kali ini secara sederhana berisi “pentas lumba-lumba”. Ya pentas lumba-lumba barangkali selalu menjadi hiburan yang paling laris dan dinanti-nanti sebelum generasi memasuki era milenial kini. Pertunjukan yang menampilkan hebatnya lumba-lumba dapat menuruti kehendak manusia untuk melakukan banyak hal. Tentunya penonton yang hadir tidak banyak yang membayangkan bagaimana sesi pelatihan lumba-lumba hingga menjadi sehandal demikian. Pertunjukan hewan eksklusif tidak hanya dengan binatang lumba-lumba, kawan lainnya pun bernasib serupa seperti paus,  berang-berang dan anjing laut yang sejauh ini banyak dipertunjukkan di pasar malam keliling maupun taman hiburan Jaya Ancol.

Seakan memiliki hierarkis tersendiri, kemudian di kasta di bawah pertunjukkan lumba-lumba dan hewan lainnya terdapat pertujukkan hewan darat yang sangat umum misalnya, monyet. Terkenal dengan narasi ‘sarimin pergi ke pasar’, monyet yang telah terlatih begitu sigap berpindah kesana kemari mengambil perkakas nya bahkan memungut pundi-pundi rupiah yang dilemparkan ke arahnya.

Selain digunakan sebagai pengisi pertunjukkan, hewan-hewan pada umumnya seringkali digunakan untuk sumber dari bahan makanan dan pakaian serta sebagai hewan peliharaan. Namun, manusia juga seringkali mengeksploitasi hewan untuk kepentingan lain yang tidak terlalu penting seperti untuk judi dengan sabung ayam, pertandingan anjing dan babi hutan, adu domba maupun  bersenang-senang dengan menyiksanya. Kegiatan yang merugikan hewan tersebut tidak jarang pula membunuhnya.

Di Indonesia, selain dilatih untuk ditampilkan dalam pertunjukkan di taman hiburan maupun di taman kota, hewan-hewan seperti kuda digunakan untuk menarik andong atau mungkin kata lainnya delman. Kuda dikendalikan di jalan raya bersanding dengan kendaraan bermesin. Adapun kerbau yang mencari makan sembari membantu petani untuk membajak sawah. Kegiatan-kegiatan tersebut telah menjadi rutinitas di masyarakat bahkan menjadi budaya. Ya budaya, kebiasaan terstruktur yang bahkan barangkali revolusi pun akan sulit mengubahnya. Budaya yang dalam konotasi negatif adalah penyakit yang sulit disembuhkan.

Jelas sekali, hewan tidak dapat memperjuangkan hak nya. Maka manusia sebagai sesama ciptaan tuhan dan mahluk hidup dan mampu berfikir lebih sempurna dan dapat menyampaikannya harus dapat mewakilkan untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang benar-benar tidak mampu berdialog.

Ideologi pembebasan hewan telah popular sebagai bagian dari ideologi liberal yang menjunjung tinggi kebebasan individu diatas segalanya untuk mendukung dinamika kehidupan kearah yang lebih baik. Berdasarkan sejarahnya, ideologi ini muncul pertama kali di Inggris di sekitar akhir abad 19. Ideologi pembebasan hewan mengarahkan daya tariknya kepada manusia yang (1) menindas atau menyalahgunakan binatang, (2) mendapatkan beberapa keuntungan dari penindasan tersebut atau (3) tidak mendapatkan keuntungan kecuali berdiri dan tidak melakukan pelecehan dan penindasan terhadap hewan.

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam yang sangat beragam sepatutnya memiliki lembaga yang khusus untuk mengawasi kegiatan mengeksploitasi hewan untuk tujuan sebagai penunjang mata pencaharian secara berlebihan maupun untuk kegiatan berorientasi negatif dan merugikan sisi keselamatan hewan.

Peran suaka margasatwa, cagar alam, Profauna, Yayasan Gibbon Indonesia dan lainnya mayoritas cenderung terfokus pada perlindungan satwa langka dan kemudian bagaimana untuk menjaganya agar tidak punah dengan perhatian khusus perawatan intensif dan perlakukan istimewa lainnya karena kelangkaannya. Peran dan tindakan yang dilakukan tidak salah dan teramat sangat baik untuk menjaga kelestarian dan keberagaman sumber daya alam flora dan fauna di Indonesia.

Namun dibandingkan dengan flora, fauna jauh lebih terancam kelestariannya. Satwa-satwa di Indonesia yang cenderung memiliki populasi aman, tidak dikontrol dengan intensif atau mungkin barangkali para lembaga terkait hewan ini lebih tertarik pada yang langka saja dan cenderung membiarkan yang masih memiliki jumlah populasi yang tinggi.

Sedangkan banyak sekali terjadi kasus ekspor illegal sirip hiu di beberapa wilayah di Indonesia dengan jumlah besar, sedangkan masyarakat Indonesia sekalipun belum tentu semewah itu merasakan gizi dari sirip hiu. Selain sirip hiu, coba saja ketik keyword  “toko kulit macan” pada search engine favorit anda, maka hasilnya kemudian yang menjual bahkan toko online yang memberikan anda kemudahan untuk nego, bahkan menawarkan kulit kucing raksasa lainnya. Miris sekali bahkan kulit satwa yang menuju langka pun dijual secara bebas dan online!

Selain sirip hiu, coba saja ketik keyword  “toko kulit macan” pada search engine favorit anda, maka hasilnya kemudian yang menjual bahkan toko online yang memberikan anda kemudahan untuk nego, bahkan menawarkan kulit kucing raksasa lainnya. Miris sekali bahkan kulit satwa yang menuju langka pun dijual secara bebas dan online!

Hipotesis nya barangkali bisa seperti ini: rendahnya tingkat Pendidikan di Indonesia telah menjadikan banyaknya pengangguran struktural yang kemudian akan mencari pekerjaan apapun demi bertahan hidup. Selanjutnya sumber daya alam yang paling luas dan berpeluang besar dalam lapangan kerja meskipun kerja kasar adalah menjadi nelayan di laut Indonesia yang sangat luas, maupun menjadi pemburu hewan di hutan Indonesia yang sangat rimbun. Ketidaktahuan karena kurangnya pengetahuan dari para pekerja ini kemudian menjadikan mereka menangkap hewan-hewan sesuka hati tanpa memperhatikan dan memilah mana yang boleh dan tidak selama itu menguntungkan. Dan kasus selanjutnya adalah eksploitasi satwa untuk kepentingan ekonomi.

Seakan selalu menjadi muara dan pihak yang disalahkan dari segala permasalahan. Sistem politik, pemerintah dan birokrat selalu menjadi pihak yang diharapkan menjadi sumber solusi setelah menjadi sumber masalah pembebasan satwa ini. Meskipun lelah menjelaskan, namun apa daya karena awal dari siklus permasalahan ini adalah sumber daya manusia dalam posisi strategis yang kurang tepat dalam memutuskan.

Namun, seharusnya upaya penyadaran bagi mereka yang duduk di posisi strategis bisalah dimulai dari kaum mahasiswa untuk melakukan upaya pencerdasan pada mereka yang awam ini agar setidaknya mengerti. Kaum yang tiap-tiap insannya memiliki janji tak tertulis untuk melaksanakan tri-dharma perguruan tinggi diharapkan menjadi pencetus dari permasalahan ini.

Doa dan dukungan mengiringi untuk pembebasan Sun Go Kong dengan rantai di bawah dagu dari mahasiswa yang masih belum bisa menurunkan UKT.

Oleh : Fitri Anggraeni

Editor : Muhamad Fachrial Kautsar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *