ADAKAH KAMU AKAN PULANG?

source: http://www.1freewallpapers.com/waiting-for-spring/id

Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, tetapi batang hidungmu belum kulihat jua.
Kuhampiri pintu kayu kecoklatan yang sudah lama reot itu–pintu yang kau lalui beserta segala semangat dan asa yang kau bawa keluar bersama dengan langkahmu, jua lelah dan peluh yang kau seret masuk setelah puas berkelana. Kusentuh gagang pintu emas berkarat itu, kemudian kuteringat bagaimana telah berulangkali tanganmu yang kaku dan penuh goresan mencoba memperbaikinya yang selalu rusak dan lepas, dan bagaimana telah berulangkali aku pinta kau untuk menggantinya dengan yang baru. Kau, dan kepalamu yang keras itu, selalu saja menaikkan bahu dan berkata enggan. Kau katakan padaku bahwa gagang pintu ini masih bagus dan dapat kau perbaiki. Kau katakan padaku bahwa uang yang tak seberapa ini masih lebih baik kugunakan untuk membeli beras, atau termos baru, atau pemerah bibir untukku saja.

Kubuka pintu itu dengan perlahan, deritan tuanya hanyalah satu-satunya suara yang
menemaniku kala itu. Kubiarkan angin malam menerpa kulitku yang tak kubalut dengan jaket, baju berlengan panjang, atau apapun itu untuk melindungi diriku dari dinginnya malam. Ku terawang langit hitam pekat dan bulan yang berpendar menyeringai di atas sana. Ia seolah menertawakan sekaligus mengasihaniku yang terjaga seorang diri. Aku, seorang wanita dengan keseharian yang begitu tak menarik selain berkutat di dapur dan mengantar cah lanang dan cah ayuku pergi sekolah. Aku, seorang istri dari lelaki yang jiwanya dipenuhi dengan entah mimpi atau delusi, dan tanpa lelah terus meneriakkan semangat dari kebenaran dan keadilan. Aku, seonggok daging yang hanya sanggup terdiam seperti jasad mati berjalan, dengan hanya nafas yang menderu-deru dan isi kepala yang abu-abu.

Kusenderkan badan kurusku pada dinding rumah kolot ini, rumah usang dengan banyak
cerita tentang perjalanan kau dan aku mengarungi asam-garam kehidupan. Kupejamkan mataku sejenak, dan ku biarkan pikiranku berkelana, mencoba mencari-cari ada dimanakah kau sekarang. Ada kah kau sedang terjaga jua? Ada kah kau sedang mengingat-ingat pula bagaimana detil wajahku? Ada kah kau sedang terduduk, bercengkrama dengan malam, ditemani secangkir kopi dan berpuntung-puntung Ardath, dengan kepalamu yang dipenuhi oleh hingar-bingar itu? Adakah kau sedang menulis dengan tinta-tinta yang biasa kau minta pada tentangga, pada carik-carik kertas yang kau pungut dari jalanan, seperti apa yang dulu biasa kau lakukan di rumah ini, ketika para abri suruhan sang penguasa yang maha benar belum membawa paksa ragamu pergi?

Mungkinkah kau… masih hidup?

Kuhela napasku panjang. Kubiarkan nestapa mengalingi keseluruhanku. Kubenamkan wajahku pada kedua telapak tanganku yang kini telah basah oleh air mata. Kuizinkan rekaman-rekaman memori tentangmu bermain di dalam benakku. Kuingat kembali bentuk bibirmu, bibir yang menggerbangi percakapan-percakapan tentang bagaimana kau menginginkan kemerdekaan seutuhnya, tentang bagaimana kau membicarakan keadilan yang belum sepenuhnya rakyat nikmati, tentang masalah-masalah runut akan negara yang padamu aku hanya dapat balaskan senyum.

Kukenang kembali caramu menyentuhku. Caramu membiarkan aku bersandar pada bahumu yang lesu tetapi kau paksakan tegap dihadapku. Caramu menyeka air mataku yang kerap jatuh setiap kali kau berkata kau ingin mengabdi pada rasa cintamu akan rakyat dan akan negara ini. Caramu mengamini amarahku yang kerap membuntang acap kali kau pulang dengan tangan bergores-gores karena kau yang berlari tergopoh-gopoh sembari menenteng papan protes yang seadanya. Caramu mengikat kuat tirai-tirai egomu agar engkau dapat mengasihiku dan menjagaku.

Kubuka mataku dan kupandang sekali lagi cakrawala malam yang ada dihadapanku.
Kugenggam erat-erat dadaku seakan itu adalah tanganmu yang tak akan mungkin kuraih lagi. Kurasakan keberadaanmu yang tiada ini untuk sekali lagi sebelum aku masuk dan kembali pada realita bahwa kau belum pulang, dan mungkin tak akan lagi pernah pulang. Kujanjikan padamu bahwa aku akan tetap ada dan menunggumu dalam bias angan-angan, sebelum kutanyakan kembali padamu, dengan suara berat tersendat-sendat dalam pengharapan keputusasaan,

“Adakah kamu akan pulang, sayang?”

Bulan 5, Tahun 1966
Kawan hidup dari seorang tukang ketik,
aktivis,
dan lelaki yang mencintai negara dengan segenap jiwa raganya.

Oleh : Vhia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *