Mengapa Orang Batak Sulit Menjadi Gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara?

   Inspirasi saya pertama kali dalam menulis tulisan ini salah satunya berasal dari lirik lagu Anak Medan oleh Trio Lamtama dimana salah satu liriknya berbunyi demikian:

Horas……Pohon pinang tumbuh sendiri

Horas……Tumbuhlah menantang awan

Horas……Biar kambing di kampung sendiri

Horas……Tapi banteng di perantauan


Dalam lirik tersebut tertulis “Biar Kambing di kampung sendiri, Tapi banteng di Perantauan”. Jika dikaitkan dengan judul diatas dimana mengapa orang batak sulit menjadi gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara menurut saya memiliki hubungan. Betapa tidak, semenjak pemilihan kepala daerah pertama secara langsung di Sumatera Utara hingga sekarang belum ada orang batak secara khusus yang dapat memenangkan Pilkada Sumatera Utara.

   Memang sebagai negara yang demokratis, setiap orang memiliki hak yang sama baik dalam partisipasinya untuk mengikuti dan mendaftarkan diri sebagai calon dalam pemilu tanpa harus memandang suku,agama,ras dan lain-lainnya. Namun, tulisan saya kali ini lebih membahas penyebab orang batak sulit bertarung dalam pemilihan kepala daerah ditanahnya sendiri.

   Pertama, dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah yang disebut dengan marga, marga ini berfungsi sebagai tanda adanya tali persaudaraan di antara mereka. Orang batak hingga kini masih meyakini bahwa marga dan tarombo perlu untuk dicari dan diperjelas karena seluruh orang batak meyakini bahwa mereka adalah dongan-sabutuha. Dongan-Sabutuha berarti “mereka yang berasal dari rahim yang sama” (Vergouwen, 1986, hal. 1). Hal ini juga diperkuat dengan peribahasa batak yang berbunyi Tinitip Sanggar bahen huru-huruan/Djolo sinukkun ma marga asa binoto partuturan. Arti peribahasa ini adalah “ Untuk membuat sangkar burung, orang harus memotong gelagah/ Untuk tahu kekerabatannya orang harus menanyakan marga. Marga merupakan hal yang sangat penting bagi suku batak karena suku batak meyakini bahwa margalah jalan adanya suatu tali persaudaran dan suku batak dalam mengetahui sapaan bagi seseorang harus mengetahui marga orang tersebut. Satu hal yang sering terjadi dalam setiap pemilihan kepala daerah bahwa marga menjadi salah satu faktor seseorang menentukan pemimpin mereka. Kedekatan yang disebabkan marga tersebut akan menjadikan solidaritas yang sangat kuat sehingga seseorang untuk memikir ulang dalam mendukung calon lain selain dari marganya sendiri. Marga sangat mempengaruhi kemenangan seorang calon dalam suku batak. Marga mayoritas biasanya akan memegang kendali perpolitikan daerah.

   Kedua, Masyarakat disuku batak yang telah meyakini adanya istilah “Dang Tumagon Tu Halak Adong dihita” (mengapa memilih orang lain jika ada dari kita sendiri). Dan istilah tersebut masih dipegang teguh oleh masyarakat batak. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran dimana masyarakat tidak akan melihat seorang pemimpin berdasarkan kualitas namun berdasarkan kekerabaan. Ketiga, Dalam masyarakat batak toba desa dikenal sebagai huta/kampung. J.C Vergouwen mendefenisikan huta sebagai sebuah dunia kecil yang tertutup, satu kesatuan yang hidup dan terdiri dari sekelompok kecil orang yang terikat satu sama lain secara alami, dan sudah lama hidup didaerah tempat ini, tempat anak-anak mereka lahir, tempat yang diharapkan menjadi kuburan mereka sendiri. Desa yang mayoritas penduduknya banyak akan mempengaruhi perolehan suara pasangan. Keempat, Menurut Maxwell (1967) Pemimpin adalah pengaruh. Kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain. Tokoh dalam suku batak dijadikan sebagai seorang pemimpin yang mereka anggap benar. Karena terbentuknya paradigma masyarakat,maka yang terjadi dari segi politik adalah tokoh tersebut dapat menjadi seorang yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk memperoleh dukungan. Sehingga kepemimpinan berhubungan dengan proses mempengaruhi perilaku orang lain kearah pencapaian tujuan.

   Jika dikaitkan dengan teori politik identitas pertama kita harus melihat makna dari identitas itu sendiri. Identitas adalah seorang individu atau kelompok yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik tertentu sehingga ciri-ciri atau karakteristik tersebut menjadi satu kesatuan (Suparlan, 2004, hal. 25). Sehingga secara sederhana terdapat satu hal atau lebih yang membedakan individu atau suatu kelompok dengan individu dengan kelompok lain. Menurut Castellsdalam bukunya yang berjudul The Power Of Identity: The Information Age, Economy, Society and Cultural (2003:7) mengemukakan bahwa:

“Identities can also be originated from dominant institutions, they become identities only when and if social actors internalize them and construct their meaning around this internalization”

   Dimana secara sederhana, Castells mengemukakan bahwa Identitas bukan hanya berbicara tentang bagaimana individu mengidentifikasi dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana kelompok dominan memberikan klaim dan menginternalisasi seseorang atau kelompok tertentu yang dilekatkan pada ciri-ciri dan streotif yang dilekatkan pada mereka. Maka, dapat disimpulkan bahwa Politik Identitas adalah tindakan politis untuk mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan.

   Jika dikaitkan pada Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara tahun 2013 yang lalu dimana terdapat lima pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur Sumatera Utara diantaranya:

Paslon 1          : Gus Irawan Pasaribu-Soekirman

Paslon 2          : Effendi MS Simbolon-Jumiran Abdi

Paslon 3          : Chairuman Harahap-Fadly Nurzal

Paslon 4          : Amri Tambunan-RE Nainggolan

Paslon 5          : Gatot Pujo Nugroho-T. Erry Nuradi

   Dapat dilihat bahwa empat pasangan calon adalah orang batak sedangkan hanya satu pasangan calon diluar batak. Jika dikaitkan dengan bagaimana sistem kekerabatan dalam suku batak dimana salah satu faktor yang menentukan orientasi pemilih adalah Marga disertai dengan anggapan “Dang Tumagon Tu Halak Adong dihita” (mengapa memilih orang lain jika ada dari kita sendiri) dapat disimpulkan bahwa pemilih akan cederung memilih pasangan calon yang sesuai atau memiliki kedekatan secara marga. Hal ini menjadi sesuatu yang menurut saya sudah menjadi hal biasa dalam pemilihan kepala daerah bukan hanya tingkat provinsi melainkan kabupaten ataupun tingkat desa.

   Keinginan-keinginan yang menurut saya mengarah kepada sikap egois menjadikan salah satu faktor mengapa orang batak susah menjadi gubernur ditanahnya sendiri karena setiap individu atau kelompok akan terlebih dahulu mementingkan dan memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan dari kelompok mereka sendiri. Jika dilihat dari hasil perolehan suara setiap pasangan calon dapat dilihat bagaimana akhirnya suara dari keempat pasangan calon menjadi terpecah dan hal ini menjadi keuntungan bagi calon diluar batak itu sendiri.

 

Berikut hasil perolehan suara dari Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utarra pada PILKADA Sumatera Utara tahun 2013:

   Dapat dilihat bagaimana antara perolehan pasangan calon nomor urut satu dan dua sebenarnya cukup mendominasi dalam pemilihan kepala daerah periode tersebut. Namun, akibat hal yang telah saya kemukakan sendiri dimana sulitnya bagi suku batak itu sendiri menemukan titik terang untuk mengusung satu atau dua calon saja menyebabkan suara yang menurut saya cukup banyak akhirnya menjadi kurang berpengaruh bagi kemenangan kedua pasang calon. Mengapa orang batak sulit untuk bersatu dalam mengusung pasangan calon? Menurut Vergouwen (1985) orang Batak selalu mendambakan kemenangan dari suatu perkara dan ingin tetap tampil sebagai pihak yang paling cerdas; dan akan merasa malu jika kalah dalam perkara tersebut. Saya sependapat dengan Vergouwen karena saya sering melihat hal tersebut dalam watak orang Batak dimana setiap marga bersikeras untuk tampil sebagai pemenang sehingga menjadi sulit dalam menemukan pemikiran yang sama dalam menyatukan visi bersama untuk mengusung calon yang dianggap paling mampu secara kualitas untuk maju serta bersaing dalam pemilihan kepala daerah Sumatera Utara.

   Kemudian hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi calon yang dianggap “minoritas”  untuk memanfaatkan momentum ini sebagai cara untuk memenangkan pertarungan. Menurut pendapat pribadi strategi yang dapat digunakan adalah dengan mengunci kota/kabupaten dimana rata-rata persentase jumlah penduduk berdasarkan suku mayoritas diluar dari suku batak cukup banyak. Menurut data dari KPU Sumatera Utara dapat dilihat perolehan suara dari setiap pasang calon di setiap koata/kabupaten antara lain:

   Dapat dilihat di Kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Tanjung Balai dan Padang Sidempuan pasangan calon nomor urut lima yaitu Gatot-Tengku menang dalam perhitungan suara, Walaupun di Padang Sidempuan pasangan Gatot-Tengku memperoleh urutan kedua. Jika dilihat dari persentasi jumlah penduduk berdasarkan suku, di kota Binjai penduduk terdiri dari berbagai etnis antara lain Melayu, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun, Jawa, Banten, Minang, Aceh, China, dan India dengan pemeluk agama mayoritas adalah Islam. Begitu pula sebaliknya sedangkan dari segi kabupaten yang rata-rata mayoritas penduduk adalah Batak Toba dan Batak Karo pasangan nomor urut lima mendapatkan perolehan suara yang minoritas seperti Tapanuli Utara pasangan nomor urut lima memperloeh suara sekitar 3.373 sedangkan pasangan nomor urut dua yaitu: Effendi Simbolon-Jumiran Abdi berhasil memperoleh 62.634 suara. Perbedaan yang cukup jauh ini menurut saya terdapat keterikatan yang tidak dapat dipisahkan dari segi suku yang menjadi salah satu faktor penentu kemenangan calon. Diatas telah saya singgung dimana dari kekerabatan, serta daerah pun mempengaruhi kemengangan atau perolehan suara calon.

   Salah satu kekhawatiran saya adalah jika masyarakat tidak akan melihat seorang pemimpin berdasarkan kualitas namun berdasarkan bagaimana hubungan kekerabatan. Mengapa saya menyoroti hal ini? Karena jika dilihat semenjak Syamsul Arifin terpilih menjadi gubernur Sumatera Utara pertama dari hasil pemilihan umum kemudian dilanjutkan oleh Gatot Pujo Nugroho tidak ada dari keduanya yang memimpin Sumatera Utara 5 tahun penuh karena terjerat kasus korupsi. Sehingga, perlu ada kesamaan tujuan diantara masyarakat Sumatera Utara untuk memilih pasangan calon yang menurut saya bukan berdasarkan sistem kekerabatannya melainkan bagaimana kemampuan serta pengalamannya dalam memimpin serta program apa yang diusung oleh pasangan calon tersebut dapat membawa masyarakat menjadi lebih sejahtera.

 

Oleh : Kevin Nathanael Marbun

 

Daftar Pustaka

Castells, M. (2003). The Power Of Identity: The Information Age, Economy, Society and Cultural Vol II. Australia: Blacwell Publishing.

Suparlan, P. (2004). Hubungan Antar Suku Bangsa. Jakarta: KIK Press.

Vergouwen, J. (1986). Masyarakat dan hukum adat Batak Toba. Yogyakarta: LKIS.

Dikutip dari laman http://www.binjaikota.go.id/profil-13.html pada hari Senin, 11 Desember 2017 pukul 11.45 WIB.

Dikutip dari https://news.detik.com/berita/2195444/kpu-sumut-tetapkan-gatot-tengku-erry-pemenang-pilgub-sumut . Tanggal Artikel: Jumat, 15 Maret 2013 pukul 18.32 WIB. Tanggal Akses pada 11 Desember 2017 Pukul 12.04 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *