MENDESKRIPSIKAN TUHAN

   Tulisan ini dibuat untuk merespon tulisan temanku yang dimuat oleh geotimes.co.id, Fikri Muhammad, beberapa jam yang lalu dari aku memulai untuk menulis tulisan ini. Aku berencana akan menggunakan pendekatan dan tulisan yang lebih bisa mudah dibaca karena saya juga tidak menyukai tulisan-tulisan filsuf yang mungkin harus dibaca lebih dari dua kali mungkin untuk bisa memahami betul dengan sempurna tentang apa yang dimaksud. Tulisan Fikri tentang Ad Hominem dan kesalahan logika berpikir pada manusia jaman now, kalo kata orang-orang di media sosial kini, kian lekat dalam kehidupan sehari-hari. Fikri mengemas tulisan itu dengan Bahasa yang tinggi, namun apabila sudah dibaca ternyata contoh-contoh kasus yang dipakai klise dan benar-benar nyata dalam kehidupan. Tautan terkait dengan berita Fikri akan Aku sajikan di bagian bawah coretanku ini.

   Kira-kira kapan kalian mengenali Tuhan? Jujur, aku baru mengenali Tuhan disaat TK tingkat pertama (tingkatan TK dibagi dua, nol kecil, dan nol besar). Sebuah penamaan tingkat yang aku sendiri baru merasakan apa maksudnya sekarang. Oke tinggalkan masalah tingkatan TK (dan masa lalunya) yang bisa dibahas di catatan-catatan lain. Tidak lain dan tidak bukan dari TK sampai kuliah aku diajarkan dengan pendekatan terhadap Tuhan selalu dan selalu dari kacamata agama. Agama di Indonesia ada enam yang diakui, dan masing-masing agama memiliki pendekatan dan cara berbeda untuk mengenalkan Tuhan kepada umat newbie seperti saya kala itu. Aku dideskripsikan oleh guru TK ku bahwa Tuhan itu cantik, seperti gadis cantik. Dengan logika berpikir anak umur empat tahun pada saat itu, aku menyipulkan bahwa Tuhan berbaju putih, wanita, tapi tidak terlihat.

   Kemudian, saat usiaku mulai lanjut untuk memasuki remaja, ada perbedaan makna lagi ketika Tuhan jangan disamakan dengan apapun yang ada di bumi, karena Dia tidak dapat dirupakan. Ada lagi ketika teman berbeda imanku percaya bahwa wujud Tuhan pernah benar-benar manusia, ketika Nabi Isa As. Atau Yesus Kristus lahir disekitar tahun satu Masehi, dan diangkat menjadi mesias ketika umur 29. Teman-temanku mempercayai bahwa Dia adalah Anak Tuhan, yang bisa lahir tanpa sperma laki-laki. Dia adalah perpanjangan dari Allah Bapa untuk meluruskan Umat-Nya dan memnebus dosa manusia ketika Ia berkorban dijatuhi hukuman salib. Rupa Yesus sangat tampan, enak dilihat, tenang, dan berwibawa. Sangat ideal untuk seorang laki-laki Yahudi pada zaman itu. Aku belajar agama Nasrani selama dua belas tahun pun seperti ikut tersihir dengan mukjizat-mukjizat yang dihasilkan Yesus. Tetapi, Yesus selalu bilang bahwa ada “Bapa” di belakangnya. Dari semua kekuatan mukjizat yang Ia miliki ada satu kekuatan yang ia sebut kekautan Bapa yang mempunyai segalanya di dunia ini.

   Nah, antara Nabi Isa atau Yesus denganku saja pendefinisian rupa Tuhan telah berbeda. Yesus mungkin menganggap bahwa Tuhan seperti Ayah kandungnya, dan di Nasani ada istilah Allah Bapa, dan anak Allah. Anak Allah diturunkan khusus ke Bumi untuk membantu misi Allah Bapa menyelamatkan umat, sederhananya seperti itu.

   Ada lagi yang menganggap Tuhan tidak berwujud dan jangan pernah mewujudkan rupa Tuhan. Aku pernah dianalogikan melihat Tuhan seperti manusia dipeluk erat dengan gajah memakai belalainya hingga Manusia itu menempel dengan badan gajah, sampai tidak bisa melihat apapun. Paham kan, analoginya? Atau analogi kedua ketika kita berada di orang yang menyalakan lampu jauh mobil sehingga secara reflek mata kita menutup untuk menghindari melihat sinar lampu, tetapi panas dari sinar lampunya mampu kita merasakan dengan total jika kita berada di jarak sepuluh meter.

   Tuhan juga bisa didefinisikan sebagai rindangnya Hutan hujan tropis yang masih alami, tanpa tersentuh tangan manusia sedikitpun. Itu bagi mereka yang benar-benar mencintai alam. Di Indonesia Suku Badui masih melestarikan tradisi untuk merawat alam, dan menganggap alam sebagai Tuhan. Mereka beranggapan mereka tidak bisa tanpa alam yang benar-benar alam. Mereka tidak mau hidup pakai bahan sintesis, tidak mau ikut bergabung dengan masyarakat milenial yang sudah bisa menikmati wifi, televisi, youtube, dan mungkin instagram (itu untuk suku badui dalam, untuk badui luar sudah mulai akrab dengan kemajuan teknologi).

Kalian mendeskripsikan Tuhan seperti apa?

 

Tautan artikel Fikri bisa dilihat di:  http://geotimes.co.id/opini/melawan-kesalahan-logika-berpikir-untuk-hidup-yang-bernilai-baik/

 

Penulis: Kevin Yudha

Editor: Rully Naufal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *