Maju Tak Gentar Ala Cornel Simanjuntak

sumber: http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/325/Cornel-Simanjuntak

 

     Cornel Simanjuntak lahir di Pematang Siantar tahun 1921. Ayah dari Cornel Simanjuntak merupakan pensiunan polisi pemerintahan Hindia Belanda di Medan. Gelar ayah dari Simanjuntak adalah Ompu Mangara, sehingga Cornel Simanjuntak merupakan keturunan Ningrat. Cornel ketika kecil menempuh pendidikannya di HIS St. Fransiscus Medan, lulus tahun 1937 kemudian melanjutkan pendidikan di HIK Xaverius Collage Muntilan dan pada saat bersamaan diterima di HBS Medan[1].

     Ayah Cornel Simanjuntak berharap suatu saat setelah lulus Cornel menjadi seorang guru, namun Cornel lebih tertarik kepada musik sehingga dia lebih memilih menjadi seorang seniman dengan lagu-lagu perjuangannya yang terkenal sampai sekarang dan kita kenal dengan judul “Maju Tak Gentar”.

 

Maju Tak Gentar

C.Simanjuntak

Maju tak gentar
Membela yang benar
Maju tak gentar
Hak kita diserang
Maju serentak
Mengusir penyerang
Maju serentak
Tentu kita kita menang
Reff :
Bergerak bergerak
Serentak menerkam
Menerjang terjang tak gentar
Tak gentar tak gentar
Menyerang menyerang
Majulah majulah menang

 

     Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945 tokoh-tokoh pejuang Batak juga mengambil posisi di barisan terdepan di mana salah satu tokoh tersebut adalah Cornel Simanjuntak. Cornel menunjukkan jiwa perjuangan dalam lagu Maju Tak Gentar bukan hanya sebatas lirik demi lirik yang tertulis namun Cornel tidak ingin tinggal diam dan ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kala itu. Cornel pernah berkata kepada salah satu sahabatnya Asrul Sani “Kalau Saudara hendak mencari saya, jangan cari di rumah. Saya ada di markas API, Menteng 31. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang merasa bebas sebebas-bebasnya dan dengan kebebasan yang saya perdapat ini saya tentu akan dapat menghalang jiwa saya. Saya tidak ingin perasaan kebebasan itu hilang. Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut dalamnya.”[2]

     Cornel Simanjuntak ingin menunjukkan bahwa semangat berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak boleh selesai sampai kita gugur dimedan pertempuran. Apapun yang dapat diberikan untuk itu adalah sebuah tanggung jawab baginya. Hal itu dapat dilihat ketika suatu peristiwa di daerah Senen-Tangsi Penggorengan Jakarta di mana paha Cornel pada saat itu tertembak melawan pasukan tentara Gurkha/Inggris. Ia pun kemudian dirawat di CBZ yang mana sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Belum pulih total, pasukan sekutu melakukan penyisiran di rumah sakit sehingga teman-teman Cornel harus membawanya pergi keluar Jakarta. Dari Karawang dan akhirnya di Yogyakarta. Di Yogyakartalah Cornel beristirahat sampai penyakit yang dideritanya sembuh. Ia tidak tinggal diam di sinilah lagu-lagu perjuangan untuk memberi semangat kepada teman-teman seperjuangannya tadi diciptakan diantaranya: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, dan Indonesia Tetap Merdeka.

     Tidak banyak yang mungkin saya sampaikan mengenai kelebihan-kelebihan yang lain dari seorang Cornel Simanjuntak. Saya hanya ingin mengaitkan sedikit jiwa perjuangan yang tak pernah berhenti dan memberi apapun yang bisa diberikan untuk satu tujuan dari Cornel Simanjuntak dengan jiwa Batak yang melekat dalam dirinya. Surat Kabar Bintang Batak tahun 1938 pernah menuliskan bahwa Batak adalah suku yang dikenal sebagai suku yang mahir berkuda serta memiliki jiwa keras, berani, dan perkasa. Kuda merupakan simbol dari kejantanan, keberanian di medan perang atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan. Menurut Vergouwen (1985) orang Batak selalu mendambakan kemenangan dari suatu perkara dan ingin tetap tampil sebagai pihak yang paling cerdas; dan akan merasa malu jika kalah dalam perkara tersebut. Saya sependapat dengan Vergouwen karena saya sering melihat hal tersebut dalam watak orang Batak sehingga melihat Cornel Simanjuntak tidak berhenti berjuang demi meraih kemanangan dan selalu ingin memberi kelebihan-kelebihan yang Ia miliki yaitu memiliki jiwa seni yang tinggi dan memberi potensi tersebut dalam karya-karya yang Cornel buat sudah menggambarkan watak orang Batak yang dikemukakan oleh Vergouwen.

     Satu pelajaran yang sangat penting dari Cornel Simanjuntak yaitu jika kita benar jangan pernah takut untuk melawan. Berjuang untuk satu tujuan yang mungkin setiap orang mendambakan hal tersebut tidak harus ditunjukkan dengan satu cara melainkan kita harus sadar dengan potensi yang kita miliki dan tunjukkan potensi itu untuk mencapai tujuan tadi. Cornel Simanjuntak menunjukkan itu sebelum dan setelah Ia jatuh sakit. Selain tertembak pada saat peristiwa di daerah Senen-Tangsi Penggorengan Jakarta, Ia juga menderita batuk kering yang tak berkesudahan. Badannya melemah dan tubuhnya terus menyusut. Cornel terus berkarya. Ia terus melahirkan lagu-lagu perjuangan untuk membakar semangat heroik kaum muda.

Di batu nisan Cornel tertulis sebuah kalimat yang menggambarkan dirinya yaitu “Gugur Sebagai Seniman dan Prajurit Tanah Air”.

 

Rujukan

Vergouwen, J. (1985). Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Jakarta: Pustaka Azet.

http://www.tempolagu.tk/2016/08/biografi-c-simanjuntak-tokoh-komponis.html

http://www.berdikarionline.com/cornel-simanjuntak-seniman-dan-pemuda-revolusi/

[1] Eskripsi Lagu. http://www.tempolagu.tk/2016/08/biografi-c-simanjuntak-tokoh-komponis.html diakses tanggal 8 oktober 2017.

[2] Hartono, Rudi. 2012, Cornel Simanjuntak, Seniman Dan Pemuda Revolusi!, Berdikari Online, http://www.berdikarionline.com/cornel-simanjuntak-seniman-dan-pemuda-revolusi/ diakses 8 Oktober 2017.

 

 

Penulis: Kevin Nathanael Marbun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *