Eyes In The Sky: Antara Manusiawi dan Profesionalisme

sumber: https://d32qys9a6wm9no.cloudfront.net/images/movies/poster/8e/6b718da25ece921d50af9b5e089fc422_500x735.jpg

     Film Eyes In The Sky rilis secara global pada tahun 2016. Film ini diibaratkan sebagai permainan menunggu, menunggu timing yang tepat untuk meluncurkan sebuah misil yang berasal dari sebuah drone milik pasukan bersenjata Amerika Serikat yang mana misil ini digunakan untuk menghancurkan sebuah ‘kandang’ terorisme di Kenya. Film ini secara gamblang menggambarkan tentang sulitnya mengambil keputusan dalam melakukan peluncuran misil. Bahasa politis dan obrolan politik seringkali keluar dari film ini, yang membuat film ini unik adalah bagaimana sebuah agresi militer ditentukan lewat sebuah remote control atau mungkin para gamers ganteng idaman menyebutnya dengan joystick. Secara latar dan plot, film ini terkesan sederhana dan cenderung membosankan. Di awal film, pembangunan plot dan latar kurang menarik, namun penokohan pada film ini yang sangat menarik hati. Dalam film ini tidak ada tokoh yang terlalu menonjol, semua tokoh memiliki porsi yang sangat ciamik dan saling mendukung satu sama lain sehingga terciptalah sebuah combo penokohan yang pas. Selain itu, di tengah film penonton sangat dimanjakan dengan narasi yang sudah terpondasi kuat (terlepas dari awal film yang agak monoton dan perpindahan antar latar sedikit tidak relevan dan memaksa), penonton akan diberikan sajian yang menegangkan ditambah lagi dengan banyak sekali obrolan ringan tentang birokrasi dan politik yang mengajak penonton untuk berpikir.

     Eyes In The Sky mengajak kita untuk menerawang cakrawala perspektif moralitas kita sebagai manusia. Steve Watts (Aaron Paul) dan Carrie Gershon (Phoebe Fox) selaku Pilot drone pada film ini sangat diuji kesabarannya, profesionalitasnya dan sisi kemanusiaannya. Tugas mereka sederhana, menekan tombol merah (fire) yang ada di joystick mereka. Tapi, sisi manusiawi mereka terenyuh ketika dihadapkan oleh situasi dimana ada seorang bocah kecil yang berdagang di dekat zona merah (target). Di sisi yang lain, Col. Katherine Powell (Helen Mirren) ‘memaksa’ sang pilot untuk mengambil segala resiko. Terorisme dalam film ini (seperti pada film Hollywood pada umumnya) merupakan sebuah tindakan yang tidak pernah mendapat ampun. Namun masalah menjadi runyam ketika bocah penjual roti tersebut masih berada di area merah sesaat sebelum misil dilepaskan, jatuhnya korban jiwa (sipil) meskipun ‘hanya’ satu menjadi sebuah pertimbangan yang luar biasa terutama bagi para pilot drone yang tersentuh batinnya. Film ini sangat-sangat mengajak penontonnya untuk memandang moralitas dari perspektifnya masing-masing.

     Film ini merupakan film yang langka, namun film ini juga dapat menjadi sebuah cerminan terhadap keadaan global sekarang dimana sudah banyak negara-negara yang mengembangkan teknologi drone untuk keperluan militer dan juga banyak negara-negara yang mengembangkan misil untuk propaganda dan sebagainya. Film ini juga sangat mengusik perasaan penontonnya dan cukup menggemaskan. Mengapa menggemaskan? Mungkin adegan mengenai sebuah agresi militer harus sedikit ‘chaos’ hanya karena seorang bocah penjual roti yang mondar-mandir di area merah.

     Sebagai penutup, film ini memang fiksi, namun setelah penonton menyaksikan film ini, penonton akan mendapatkan gambaran mengenai sulitnya menjadi pilot pesawat tempur, apalagi drone karena rasa kemanusiaan dan profesionalitasan mereka diuji disana.

 

Alka Mondar-Mandir

Pengamat Film Amatir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *