Social Day 2017: Wujud Kepedulian Dalam Pengembangan Kerajinan di Desa Cipacing

Sosialisasi oleh Rora Puspita Sari, SE., M.Bus

 

     Berkembangnya merek (brand) dalam dekade terakhir ini tak dapat dipungkiri lagi jumlahnya. Sebuah merek mempunyai kekuatan untuk memikat hati konsumen untuk membeli produk. Hal ini diibaratkan bahwa merek merupakan nyawa keberhasilan produsen dalam pemasaran produknya disamping tetap memperhatikan kualitas produk tersebut. Walaupun pada saat ini dunia bisnis sudah banyak melirik merek (brand) dalam memasarkan produknya tetapi masih banyak Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang belum memahami pentingnya merek (brand) dalam dunia bisnis yang dikelolanya. Untuk merespons kebutuhan tersebut Himpunan Mahasiswa dari Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Hima ESP FEB Unpad) mengadakan sosialisasi pentingnya merek (brand) pada masyarakat pengrajin kesenian di Jawa Barat.

     Digelar pada Minggu, 20 Agustus lalu di Gang Pengrajin Cibeusi, kawasan Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, acara Social Day 2017 ke-11 yang bertajuk “branding” itu merupakan program kerja rutin dari divisi social awareness. Menurut Agi Gilang Prayogi, selaku Organizing Committee President,  Social Day 2017 terdiri dari dua rangkaian acara yaitu sosialisasi branding dan acara puncaknya yaitu seminar “Be Better with Brand” . Mahasiswa yang aktif di jurusan Ilmu Ekonomi Unpad ini pun menuturkan keprihatinan para mahasiswa pada pengrajin yang belum memperhatikan brand pada usaha mereka sehingga masih dijual secara eceran dengan harga yang murah. Diakhir kesempatan, Agi menuturkan harapannya setelah sosialisasi ini adalah ilmu yang didapat bisa mempengaruhi nilai jual produk dan menaikkan taraf ekonomi masyarakat di Desa Cipacing.

 

Sosialisasi oleh Tutut Wibowo (Founder Logo Bandung)

 

     “Dalam Branding bukan hanya pada merek saja tetapi harus tetap memperhatikan pengemasan produk dan kualitas produk yang dibuat. Branding yang baik akan memikat hati calon konsumen dan otomatis penjualan akan naik. Selain itu diperlukannya hak cipta dari masing-masing produk untuk didaftarkan di dinas terkait khususnya di Kabupaten Sumedang agar produk yang kita produksi mempunyai ciri khas sendiri di pasar.” menurut Rora Puspita Sari, SE., M.Bus selaku pembicara yang juga aktif menjadi dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad. Selain itu pembicara kedua, Tutut Wibowo selaku Founder Logo Bandung juga menyampaikan betapa pentingnya branding dalam dunia usaha, “branding yang baik akan menentukan harga kualitas barang, bahkan produk yang sejenis namun dikemas secara berbeda harganya dapat terpaut sampai tiga kali lipat besarnya”, tuturnya.

 

Foto dari kiri ke kanan: Jorghi Vadra (Ketua Himpunan Mahasiswa ESP), Ayyat (Ketua RW), Tutut Wibowo (Founder Logo Bandung), Rora Puspita Sari, SE., M.Bus (Narasumber dan Dosen FEB UNPAD), Agi Gilang Prayogi (Organizing Committee President)

 

     Menurut Pak Ayyat selaku Ketua RW, serangkaian kegiatan yang telah rutin dilakukan beberapa tahun terakhir terhadap warga, membantu warga mengemas lebih apik kerajinan tangannya menjadi sebuah brand. Terlebih, lima puluh persen dari warga Cipacing sendiri yang merupakan pengrajin kerajinan tangan, telah lama melakukan kegiatan produksi dan pemasaran senapan angin, patung, dan khususnya alat musik contohnya Karimba yang membutuhkan ciri khas Cipacing untuk lebih dikenalkan kepada khalayak luar. Selain itu, pengrajin sandal kelom, Budi, menyatakan bahwa kerajinan yang ditekuninya tidak melirik branding. Dirinya hanya mengemas produk dari plastik biasa. “Setelah seminar branding ini mau buat stempel, merek, serta memperhatikan kemasan produk. Saat ini harganya 10 ribu sampai 15 ribu rupiah nantinya setelah dikemas cantik nanti harganya 20 ribu rupiah” katanya.

Reporter: Ichsan Ali

Fotografer: Khairina Yasmin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *