Tentang Mahasiswa dan Cita-Citanya

     Seketika ingin menulis, sedikit terinspirasi dari percakapan panjang dengan salah satu jurnalis lapangan sekaligus editor panditfootball, Kang Randy ‘Ntenk’. “Bersyukurlah sebagai seorang jurnalis mahasiswa, selain mengantongi kebebasan akademik juga mengantongi kebebasan pers”, katanya. Bukan hal yang baru saya dengar sebetulnya, namun setidaknya dapat membantu saya dalam memaknai sisa-sisa masa perkuliahan ini. Sebuah dilema yang wajar terjadi terutama pada mahasiswa tingkat akhir, apakah akan berusaha mempertahankan idealisme atau memilih menyerah pada situasi. Tuntutan wisuda dari orang tua, tuntutan lamaran dari calon mertua, tuntutan karir dari pasangan kerapkali membuat mahasiswa ‘menelan ludah’ nya sendiri atas apa yang pernah mereka perjuangkan sebelumnya. Menjadi pragmatis seolah bukan lagi merupakan pilihan namun memang satu-satunya jalan untuk menyambung hidup. Merasa beruntunglah bagi mereka yang punya kesempatan untuk tetap menyambung hidup tanpa meninggalkan idealisme mereka.

     “Bayangkan, kalian mengabdi di pers mahasiswa kampus, tapi pemimpin umum nya anak rektor! Mau kritik kampus gaenak, ga dikritik juga gatel”, kata Randy untuk menggambarkan peliknya kehidupan pers yang sesungguhnya di luar kampus. Memang, kalau sudah urusan perut akan lain ceritanya. Dari situ saya sadar bahwa menyianyiakan sisa masa perkuliahan untuk sesuatu yang kurang penting merupakan hal terbodoh yang pernah dilakukan mahasiswa. Toh walaupun setidaknya kita sadar akan dihadapkan pada pilihan sulit untuk menjadi pragmatis kelak kenapa harus menyerah sejak masih aktif-aktifnya di kegiatan kampus?

**

Ya Tuhan, maafkan kami yang terlalu dini menyerah.

     Mahasiswa. Bercita-cita ingin menjadi menteri atau minimal kepala daerah. Tapi aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa atau Badan Pengurus Harian Himpunan Jurusan hanya sekedar menambah CV atau mencari sertifikat. Rapat ogah-ogahan, seringkali telat, membuat program asal-asalan, yang penting terlaksana. Tidak jarang juga memalsukan cap, nota, atau bahkan tanda tangan hanya demi memperlancar cairnya dana kemahasiswaan. Berlomba membuat program kerja yang inovatif, tidak peduli tepat sasaran atau tidak. Nilai kebermanfaatan nomor sekian, yang utama tidak melewatkan momentum untuk meningkatkan eksistensi diri selama menjabat.

     Mahasiswa. Bercita-cita ingin menjadi anggota dewan baik di tingkat pusat maupun daerah. Tapi menolak untuk aktif di Badan Legislatif tingkat kampus. Membosankan katanya, tidak berprospek, tidak terlihat peran apalagi program kerja nya. Jangankan mengikuti sidang awal, tengah, dan akhir tahun, sekedar membaca peraturan dasar dari organisasi kemahasiswaan yang dinaungi nya saja mager. Paling lantang dalam mengkritik, tapi enggan untuk ikut berpartisipasi dalam perumusan kebijakan. Toh kalaupun ada yang aktif dalam lembaga legislatif kampus, kebanyakan hanya diisi oleh barisan sakit hati yang bernafsu menjadi oposisi.

     Mahasiswa. Bercita-cita ingin menjadi aktivis yang menggagas revolusi. Tapi hanya mengaminkan argumen yang sejalan dengan pemikiran nya. Tidak jarang ‘mengkafirkan’ pihak lain hanya karena bersilang pendapat dengannya, lalu menduga-duga pihak tersebut bagian dari si ‘anu’-lah, ‘itu’-lah dengan cocokologi pembenarannya. Ada yang sering menyerukan tolak penindasan namun di kehidupan sehari-hari justru sering menindas orang lain, dan tak jarang melahirkan kekerasan. Lain lagi dengan yang lantang menyerukan penghapusan kelas sosial, namun hanya berbaur dengan buruh ketika May Day menjelang saja.

     Mahasiswa. Bercita-cita ingin menjadi jurnalis ternama atau pengusaha media multi-nasional. Tapi menulis artikel 700 kata saja engga kelar-kelar. Selalu saja ada alasan yang mengganggu tuntas nya penulisan. Ya nonton vlog di youtube-lah, nengok dedek gemes di explore instagram-lah, streaming tante Mia Khalifa-lah, dan lain sebagainya. Kalaupun jadi, jiplak sana-sini ga merasa bersalah, yang penting viral. Asal comot data yang menguatkan argumen saja, pihak seberang tidak diberi hak jawab atau minimal klarifikasi atas artikel yang hendak diterbitkan. Konten tulisan juga sengaja dihias dengan bahasa yang ‘tinggi’, agar terlihat intelek di mata pembacanya.

**

     Lalu pada saatnya kami sadar bahwa apa yang kami investasikan selama masa kuliah merupakan cerminan atas apa yang akan dilakukan generasi kami di masa mendatang. Ketika kami mengkritik Ridwan Kamil yang terlalu fokus membangun taman dibanding membenahi birokrasi yang njelimet, kami sadar bahwa pejabat eksekutif kampus kami pun lebih tertarik pada program-program populis yang menarik banyak massa dibanding mengadvokasi permasalahan mahasiswa nya. Atau ketika kami mencerca Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang terlalu banyak ‘berkicau’ dibanding kinerja anggota dewan yang rendah dalam pembahasan undang-undang, kami sadar bahwa pejabat legislatif tingkat kampus kami juga lambat dalam menyelesaikan pembahasan kebijakan dibanding jeli nya mereka dalam melihat kesalahan lembaga eksekutif.

     Juga ketika kami terheran melihat aktivis yang hanya lantang meneriakkan tuntutan namun gagap dan takut untuk mengeksekusi perubahannya sendiri, kami sadar bahwa aktivis kampus kami pun hanya ‘doyan’ mengeluarkan ide destruktif tanpa berani mengambil sikap atau memberikan alternatif yang lebih baik. Atau ketika kami mengejek MetroTV dan TVOne yang sering kentara memihak kepentingan pemiliknya, kami sadar bahwa penulis-penulis handal di kampus kami pun hanya tajam mengkritik ketika kepentingan mereka terancam saja. Dan bahkan ketika kami menyinyir Jokowi yang datang ke acara We The Fest kemarin karena sedang memburu pemilih pemula, kami sadar bahwa para pejabat ormawa kampus kami pun sering ngebet mencari-cari panggung agar dikenal mahasiswa baru nya.

Entahlah, apa cita-cita kami yang terlalu muluk-muluk atau kami yang selalu lebih dini menyerah pada keadaan.

 

Penulis : Muhamad Fachrial Kautsar
Editor : Rully Naufal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *