MENGHIDUPKAN KEMBALI WACANA KOLEKTIVISME HATTA

DR. Mohammad Hatta
 
 
“If a foreign country can supply us with a commodity cheaper than we ourselves can make it, better buy it of them with some part of the produce of our own industry employed in a way which we have some advantage”
-Adam Smith
 
Berangkat dari konsep pembangunan ekonomi ala orde baru yang sudah sangat melekat pada karakter perekonomian Indonesia kekinian bahwa pembangunan ekonomi yang berorientasi ke luar dengan mengandalkan peranan swasta yang aktif dan peranan modal asing merupakan cara yang efektif untuk menrebabilisasi dan menstabilkan kondisi keadaan ekonomi Indonesia. Bahwa pembangunan ekonomi yang berasaskan pada orientasi kapital merupakan cara bisnis yang efisien untuk mendapatkan keuntungan fiskal dan moneter. Memang benar bahwa cara-cara tersebut secara cepat dapat menstabilkan kondisi ekonomi di Indonesia setelah pergantian rezim, dari rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru. 
 
Namun nyatanya, konsep ekonomi semacam itu tidak pro terhadap kemajuan usaha-usaha ekonomi pribumi. Sebagai contoh, dalam kebijakan pemerintah Orde Baru untuk mengatur keuangan negara, pemerintah sempat melakukan pengetatan peredaran keuangan dengan menetapkan tingkat bunga yang sangat tinggi, yaitu antara 5% sampai 9% per bulan yang membuat banyak dari pengusaha pribumi yang bangkrut, sehingga tingkat bunga diturunkan menjadi 2% per bulan. Kenyataan pahit tersebut bertambah dengan terjadinya reformasi pada tahun 1998 yang membuktikan kenyataan pahit dari konsep ekonomi kapitalisme yang berorientasi ke luar merupakan solusi palsu bagi pembangunan ekonomi di Indonesia, atau kata para pemuka Budi Utomo kapitalisme merupakan, “een plant van vreemde bodsen-sebuah tanaman dari negeri asing yang tidak sesuai dengan iklim Indonesia.”
 
Walaupun pemerintah pada masa reformasi tidak dapat melepaskan diri dari kebutuhan terhadap ekonomi yang berorientasi ke luar akibat konsep neoliberal yang telah menghegemoni dunia dalam bidang ekonomi menuju kesuksesan pasar bebas dalam tatanan global. Namun masa reformasi banyak menggulirkan kembali wacana-wacana konsep ekonomi yang berorientasi ke dalam sebagai usaha penguatan ekonomi rakyat. Seperti pelaksanaan program UKM (Usaha Kecil Menengah), KUR (Kredit Usaha Rakyat), dan pembangunan wacana untuk menciptakan pengusaha-pengusaha muda. Sayangnya, konsep yang digulirkan masih memungkinkan adanya persaingan pasar bebas yang dapat berhegemoni oleh beberapa kelompok kepentingan yang menginginkan monopoli pasar. Oleh  karena itu, pentingnya konsep kolektivisme dalam pembangunan politik dan ekonomi sebagai cara memperkuat ekonomi masyarakat yang lebih sehat dan memiliki nilai sosial yang tinggi.
 
Salah satu pemikir besar yang memiliki pemikiran kolektivisme tersebut adalah DR. Mohammad Hatta, salah satunya dibicarakan ketika beliau menyinggung tentang konsep kolektivisme dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar di Fakultas Ekonomi UNPAD di Bandung pada tanggal 17 Juni 1967 yang berjudul TEORI EKONOMI, POLITIK EKONOMI, dan ORDE EKONOMI. Rasanya perlu konsep seorang pemikir agung yang pernah dimiliki Indonesia untuk digulirkan kembali sebagai cara bagi pemerintah saat ini untuk melihat cara-cara dalam membangun ekonomi yang lebih sehat dan sebagai salah satu cara mempersempit jarak kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh cara-cara pembangunan ekonomi neoliberal.
 
”Melepaskan rakyat dari kesengsaraan hidup dan memberikan jaminan hidup bagi tiap orang, soal ekonomi yang pertama bagi sosialisme adalah menentukan dan memperoleh barang-barang keperluan hidup yang terpenting bagi rakyat Indonesia, berupa makanan, pakaian ,perumahan, kesehatan, dan pendidikan anak-anak”
-Mohammad Hatta

 

Dalam buku Fasal Ekonomi yang ditulis oleh Hatta ketika beliau berada di Digul dan Banda Neira antara tahun 1935-1941. Hatta menyebutkan bahwa apabila Indonesia ingin maju, maka negara ini harus berusaha sendiri tanpa mengharapkan pertolongan orang lain, “maka dari itu, bagi orang yang tidak memiliki modal untuk memajukan usahanya, koperasi merupakan senjata persekutuan bagi si lemah tuju mempertahankan hidupnya.”
 
Sebagai tokoh yang melawan imperialisme dan kolonialisme sudah sepantasnya memang bahwa Hatta tidak tertarik pada konsep kapitalisme Barat yang membebaskan persaingan, penentuan harga kepada pasar, dan khususnya monopoli perdagangan. Deliar Noer menyebutkan alasan menarik mengapa Hatta tidak tertarik dengan konsep ekonomi liberalisme, yaitu karena kapitalisme “lebih mengutamakan kebebasan, tetapi dengan membiarkan orang mencari sendiri apa yang baik untuk dirinya seakan berkembang pendapat bahwa seorang itu lebih tahu apa yang baik untuk dirinya… Akibatnya ada yang kaya tambah kaya, ada yang miskin dan tambah miskin.” Sikap sinisme Hatta ditambah dengan pernyataannya, “semakin kapitalisme masuk ke dalam masyarakat Indonesia, semakin rusak penghidupan rakyat yang tidak mempunyai pertahanan lagi.”
 
Namun Deliar Noer juga mengatakan bahwa Hatta juga tidak sepenuhnya sejalan dengan konsep sosialisme yang dikembangkan oleh Karl Marx. Dalam pernyataan Deliar Noer, “…sikap bermusuhan yang mendasar dari pihak buruh kepada majikan tidak bisa ia terima bulat-bulat. Sikap bermusuhan ini dicerminkan dalam pemikiran Marx dalam rangka perjuangannya menghadapi si kapitalis dengan dua tahapan revolusi; menghancurkan si kapitalis dan borjuis pada tahap pertama… Marx melihat masyarakat bagai merupakan pertentangan kelas saja. Hatta tidak bisa menerima perjuangan kelas ini karena ia melihat masyarakat bagai terdiri dari unsur yang sama dengan kemungkinan perbedaan akhlak, sikap dan perilaku yang bisa diperbaiki.” Menunjukkan bahwa pandangan Hatta jelas tertuju pada kenyataan bahwa terdapat perbedaan  tingkat penguasaan ekonomi, sehingga ada orang yang kaya dan orang yang miskin. Namun bukan berarti di antara mereka harus terdapat sikap bermusuhan, Hatta cenderung berpikir bahwa di antara dua kelas tersebut harus terdapat rasa saling pengertian dan saling membantu sehingga terciptalah kebersamaan dan kehidupan masyarakat yang indah dan kokoh.
 
Sehingga sebenarnya, di antara penolakan Hatta terhadap kapitalisme dan ketidaksukaan Hatta pada permusuhan antar kelas, membawa Hatta bukan kepada golongan Smithian ataupun Marxian, melainkan kepada sebuah sistem kesejahteraan khas Indonesia berdasarkan asas kerja sama, solidaritas,  dan hubungan individu kepada komunitas.
 
**
 
Permasalahan pertama adalah terletak pada penggunaan konteks ‘kolektivisme’ Saya menggunakan kolektivisme menggantikan konteks koperasi. Mengapa demikian? Karena saya ingin menghindari stigma terhadap koperasi yang merupakan instrumen dalam menjalankan konsep kolektivisme. Saya tidak ingin pembaca terjebak pada konsep koperasi, melainkan berorientasi kepada nilai-nilai kolektivisme yang dikonsepkan oleh Hatta.
 
Permasalahan kedua adalah tentang bagaimana konsep kolektivisme dapat dianalisa sebagai salah satu wacana pembentuk kemandirian dan kepribadian bangsa. Kolektivisme dianggap kini sebuah jalan yang kuno bagi peradaban modern. Pemikiran tersebut memang menghegemoni karena memang konsep individualisme yang menguasai pemikiran dunia secara global. Namun, seperti yang dikritik oleh pemikir poskolonialisme seperti Ania Loomba bahwa ide-ide yang dianut saat ini adalah ide yang mengarah kepada gagasan putih global yang belum tentu dapat diterapkan di seluruh negara yang memiliki karakter konstruksi sosial, politik, dan ekonomi yang berbeda.
 
Hatta dalam beberapa penggalan pidato di FE UNPAD pada tahun 1967 mengatakan,
 
Semangat kolektivisme Indonesia itu yang akan dihidupkan kembali dengan kooperasi, mengutamakan kerja sama dalam suasana kekeluargaan antara manusia pribadi, bebas dari penindasann dan paksaan,..
 
…Kooperasi tujuannya yang terutama bukan mencari keuntungan, tetapi menyiapkan keperluan hidup bersama. Keuntungan hanya terbawa dalam melaksanakan usaha, bukan dicari.
 
…Kooperasi yang semacam itu memupuk selanjutnya semangat toleransi, aku-mengakui pendapat masing-masing, dan rasa tanggung jawab bersama. Dengan ini kooperasi mendidik dan memperkuat demokrasi sebagai cita-cita bangsa.”
 
Penggambaran tentang hubungan solidaritas kolektivisme antara individu dengan kelompoknya dapat  tergambarkan pada 3 macam bentuk koperasi:
 
  • Koperasi Konsumsi: Buruh yang tidak menghasilkan barang harus menghidupi keluarganya, oleh karena itu koperasi menyediakan barang dengan ongkos semurah-murahnya untuk keperluan hidup buruh. Koperasi mendidik individu untuk mengangkatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Solidaritas dibutuhkan sebagai rasa individu untuk menjaga harga agar harga barang dari kepentingan-kepentingan mencari keuntungan terhadap barang-barang kebutuhan umum
  • Koperasi Kredit: Koperasi ini berguna sebagai tempat mencari kredit yang tidak mudah diberikan oleh Bank. Dalam macam koperasi seperti ini, koperasi membawa individu anggota koperasi untuk maju. Solidaritas dibutuhkan sebagai cara untuk memperkuat anggota-anggota lain untuk bekerja maksimal secara bersama-sama.
  •  Koperasi Produksi: Koperasi seperti ini merupakan angan-angan yang dibutuhkan oleh kaum agraria. Rasa solidaritas yang memang sudah tertanam pada jiwa petani harus  mampu untuk mempengaruhi nilai-nilai kepada individu petani untuk belajar mengetahui harga-harga pasar dan barang kebutuhan lainnya.
 
Dalam sistem kolektivisme yang digambarkan oleh Hatta di atas terdapat adanya rasa solidaritas untuk memberikan edukasi kepada individu, serta rasa solidaritas untuk mempertahankan harga barang dari kepentingan-kepentingan egois yang hanya mencari keuntungan semata untuk dirinya sendiri tanpa memperhatikan hajat hidup orang di sekitarnya. Ada hubungan timbal balik, di satu sisi individu mendapatkan kepuasan pribadinya untuk mendapatkan pendapatan dan kepentingan khalayak terlindungi dari bentuk monopoli-monopoli dan keserakahan usaha.
 
Dalam konsep politik, Hatta menyebutkan koperasi dapat mendidik dan memperkuat demokrasi sebagai cita-cita bangsa. Sebagaimana yang dimaksud, tujuan Hatta tersebut mirip dengan Demokrasi Sosial yang dikembangkan oleh Eduard Bernstein yang berargumen bahwa demokrasi sosial harus giat dalam memenuhi usaha kecil menengah, barang-barang harus didistribusikan, para petani yang memiliki tanah harus meningkat, sosialisme yang harus berkaca pada kenyataan, kenyataan bahwa ada kompromi dan kerja sama antar kelas, demokrasi harus dijunjung sebagai bentuk sistem politik yang modern dan hilangnya kelas ‘pemerintah’.
 
Secara ringkas, Hatta telah menyebutkan tentang pentingnya hubungan antara individu dan solidaritas di mana individu dapat memuaskan kebutuhan pribadinya akan kebutuhan barang namun saling menjaga antar anggota agar tidak saling memonopoli melainkan saling membantu untuk mendapatkah hasil yang lebih maksimal.
 
Secara sosial, nilai-nilai kolektivisme membawa nilai berbeda dari nilai-nilai yang dibawa individualisme. Di mana peran kolektivisme memiliki nilai interaksi antara masyarakat yang kuat mencerminkan nilai masyarakat yang tidak egois dan bermusuhan, namun saling membantu demi terciptanya kesejahteraan.
 
Secara ekonomi, nilai-nilai kolektivisme dapat melindungi masyarakat dari bentuk monopoli karena nilai kolektivisme memiliki nilai solidaritas –bukan persaingan- untuk mendapatkan hasil yang lebih baik secara bersama-sama, mempertahankan harga kebutuhan dari kepentingan-kepentingan oknum-oknum rakus, dan kemampuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi bersama-sama.
 
Secara politik, nilai-nilai kolektivisme dapat melindungi masyarakat dari bentuk-bentuk baru kolonialisme baru, penekanan pada demokrasi yang solid, serta kemampuan untuk menciptakan keadilan sosial yang nyata.
 
 
Kus Aliya Reza

1.       Mochtar Mas’oed. “Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971”. (LP3ES:1989) hal 87-95
2.       Abbas Anwar. 2010. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Jakarta. Kompas. hal 132
3.       Hatta Mohammad. 1967. Makalah TEORI EKONOMI, POLITIK EKONOMI, dan ORDE EKONOMI. Hal 15
4.       Hatta Mohammad. 1967. Makalah TEORI EKONOMI, POLITIK EKONOMI, dan ORDE EKONOMI. Hal 26-30
5.       Hatta Mohammad. 1945. Beberapa Fasal Ekonomi. Jakarta. Perpustakaan Perguruan Kementrian P.P. Dan K. Hal 119
6.       Abbas Anwar. 2010. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Jakarta. Kompas. hal 130-131
7.       Abbas Anwar. 2010. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Jakarta. Kompas. hal 132-133
8.       Hatta Mohammad. 1945. Beberapa Fasal Ekonomi. Jakarta. Perpustakaan Perguruan Kementrian P.P. Dan K. Hal 130
9.       Bahan Bacaan Dosen Firman Manan S.IP M.A hal 231 file lectrurezio.
10. Gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta
2 comments on “MENGHIDUPKAN KEMBALI WACANA KOLEKTIVISME HATTA
  1. Apakah Anda perlu hipotek untuk memperluas ur bisnis? Pinjaman untuk investasi baru? Pinjaman untuk melunasi utang jangka panjang dan tagihan. Mencari lagi, JOSE FRED PINJAMAN PERUSAHAAN dalam hubungannya dengan SAWAH BANK Plc, adalah memberikan pinjaman saat ini untuk Organisasi, individu dan perusahaan dengan tingkat bunga 2% tanpa agunan. Kami di sini untuk mengakhiri kemiskinan dan pengangguran, karena setiap orang memiliki nya atau potensi sendiri menunggu untuk dijelajahi. Hubungi kami hari ini dan Anda akan menjadi salah satu pelanggan kami yang terhormat. Email: (josephineferidinardloanfirm@gmail.com). Kami berkomitmen dalam membuat impian Anda reality.We sebuah adalah yang terbaik dalam bisnis ini karena pekerjaan kami sebelumnya berbicara bagi kita. Hubungi kami hari ini (josephineferidinardloanfirm@gmail.com)

  2. Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk investasi yang lebih besar? Pinjaman untuk ekspansi bisnis? Pinjaman untuk investasi baru? Pinjaman untuk melunasi utang jangka panjang dan tagihan. Cari tidak lebih, kita pemberi pinjaman dalam hubungannya dengan bank dan jaminan penawaran yang transparan, menawarkan pinjaman dengan bunga rendah, non agunan. Kami di sini untuk menempatkan dan mengakhiri kemiskinan dan pengangguran, karena setiap orang memiliki / potensi sendiri. Hubungi kami hari ini dan Anda akan menjadi salah satu pelanggan kami yang terhormat. Email: gloryloanfirm@gmail.com Terima kasih sudah datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *